Salah satu fungsi utama oli mesin adalah untuk mengurangi keausan yang
disebabkan adanya gesekan atau friksi antar dua komponen mesin yang bergerak
atau bergesekan satu sama lain. Makin kecil koefisien gesek suatu oli mesin,
maka pelumasan semakin baik dan keausan semakin kecil.
Kekentalan suatu oli mesin merupakan sifat fisik oli yg cukup penting. Namun
terkadang masih banyak Otomania salah mengartikan kekentalan/SAE suatu oli
mesin . Bahkan tdk jarang mitosnya lebih menonjol ketimbang faktanya.
Disini Saya mencoba Sharing tentang ilmu kekentalan oli ini dari hasil uji
yg dilakukan di Lab. Lemigas terjadap berbagai merk dan SAE oli yg beredar di
pasaran. Mudah2 hal ini menjadi pencerahan bagi Kita semua dan tidak keliru
lagi memaknai kode SAE/kekentalan suatu oli mesin. Aminn..
Hal2 yg perlu difahami ttg kekentalan/SAE oli mesin:
- Kekentalan/SAE suatu oli mesin bukanlah ukuran mutu suatu oli. SAE
hanyalah sebagai pembeda atau kelas2 suatu oli mesin berdasarkan tingkat sifat
kekentalannya .
- SAE rendah (encer) tidak identik dengan mutu yg lebih baik
dibandingkan yg kental.
- Makna sesungguhnya dari kode SAE bukanlah sekedar encer atau
kental, tetapi lebih berkaitan pada kemampuan oli tsb. beradaptasi pada suhu
rendah dan tinggi.
Mis: Kode SAE 20W50 misalnya, makna dibalik kode ini sebenarnya, suatu oli yg
memiliki kemampuan (telah lulus uji) distarter pada suhu (minus) -10 C dan bisa
dialirkan di dalam mesin sampai suhu -20 C . dan memiliki minimum keketalan
tertentu pada suhu tinggi 150 C (HTHS).
Untuk SAE 10W40 , lulus uji sampai – 30 . Semakin kecil angka SAE dg Huruf W
semakin dingin suhu ujinya, dst.
- Oli yg paling umum dipakai di negara bersalju adalah SAE 10W30 dan
5w30. Apapun jenis mobilnya. Disini faktor pertimbangnnya murni kondisi/suhu di
negara tsb. Kalau memakai oli mis.20w50 , kendala utamanya adalah jenis oli
tsb. bisa membeku pada kondisi dingin/salju di negara tsb.
Utk Di Indonesia, sejatinya, menurut lembaga API berapapun kode SAE
bisa dipakai tanpa mesti khawatir bermasalah dimesin.. Dan lebih utama adalah SAE 20w50,10w40. Namun utk ”performa/kinerja” mesin2 modern , oli2 lebih encer menjadi layak dpertimbangkan.
Pada umumnya oli kental + aditif friksi dan anti aus yg bagus lebih
memiliki sifat perlindungan yg lebih baik pd mesin dibandingkan yg encer.
Kalau Cuma kental aja tpi aditif nya jelek ga berpengruh. Oli encer lebih
mendukung pada performa dan irit bensin, namun kekurangannya relatif kurang
baik pada perlindungan mesin. Dan cenderung memperpendek usia mesin.
Kekentalan/SAE bukanlah satu2nya hal yg mendukung kinerja dan perawatan mesin. Kandungan aditif pada oli lbih menentukan baik tidaknya perawatan mesin.
Dari hasil pengujian alat SRV (Swingung, Reibung, Verschelis), suatu alat uji yg digunakan utk menguji kemampuan oli mesin dalam melindungi komponen mesin dan uji gaya friksi (gesek) dan mengacu pada sifat pelumasan batas (pelumasan pada saat kritis-mis. Saat starter sampai kondisi optimal mesin), di Puslitbangtek Lemigas, div. Aplikasi, menunjukkan bhw gaya friksi (gesekan) dan aus nya mesin lebih ditentukan faktor keberadaan aditif dibandingkan faktor kekentalan oli mesin itu sendiri.
Alat ini, merupakan model simulasi pelumasan mesin menggunakan bola uji baja yg dilumuri oli mesin, ditekan dg gaya tertentu, serta digesekan pada sebidang plat datar, pada suhu tertentu selama 2 jam . Hasil aus mesin langsung ditansfer/direkam ke komputer utk dihit. Diameter keausan bola uji dari berbagai tingkat SAE dan merk.
http://www.mail-archive.com/mxrider@yahoogroups.com/msg08728.html
TIPS & Panduan memilih kekentalan/SAE Oli Mesin!!!
Jalanan nanjak mobil matic gak usah pindah tuas transmisi.
Dengan semakin banyaknya varian kendaraan yang menggunakan transmisi otomatis pelangan dituntut untuk lebih mengetahui karakteristik dari transmisi otomatis sebagaimana sebuah pepatah mengatakan “tak kenal maka tak sayang”.Maka salah satu karakteristik transmisi otomatis yang harus diketahui adalah apabila kita melewati jalanan menanjak,jangan sampai ada opini kalau pakai mobil matic gak usah pindah tuas transmisi karena perpindahan gigi percepatan nya sudah secara otomatis begitu juga apabila melewati tanjakan.Perlakuan transmisi otomatis sesungguhnya cukup mudah pastikan saja posisi jalanan tidak terlalu tinggi dan tidak merayap ( macet ).Tuas transmisi otomatis cukup di posisi D dengan syarat putaran mesin tidak turun cepat dan tanjakan yang bisa dilalui mempunyai kemiringan kurang dari 15 derajat.
Lain lagi apabila tanjakan tinggi dan macet maka tuas sebaiknya dipindah ke posisi ‘2’.Gejala ini bisanya ditandai dengan putaran mesin yan ngedrop dengan cepat,kejadian ini bisa terjadi saat tanjakan di atas 15 derajat.Apabila tanjakan semakn curam hingga kemiringan sekitar 25 derajat tuas transmisi harus dipindah di posisi ‘1’ atau ‘L’,tujuannya agar kerja matic tidak terlalu berat saat terjadi perpindahan naik turun rasio gigi secara mendadak.
Dengan mengetahui karakteristik penggunaan transmisi otomatis kami harapkan sobat matic dapat lebih nyaman menggunakan kendaraan nya .
Read More......Di lampu merah pake N donk biar aman
Kendaraan dengan menggunakan transmisi otomatis sudah tentu membuat pengguna kendaraan akan merasa lebih nyaman dibandingkan dengan mennggunakan transmisi manual ini karena tidak perlu capek capek injak pedal kopling pada saat terjadi macet atau di lampu merah.Namun sayang masih ada pengguna transmisi otomatis yang belum paham benar cara pengoperasian ketika berada pada kedua kondisi tersebut.
Pada saat kendaraan menyongsong lampu merah sudah tentu pengguna akan memperlambat kendaraan nya dengan mepelas gas dan menginjak pedal rem,yang harus diperhatikan adalah pada saat berhenti “pada saat berhenti lebih dari 15 detik posisi tuas transmisi harus berada di posisi N” lalu menarik rem tangan.Tentu sobat matic bertanya kenapa ngak di D aja terus tinggal tarik rem tangan sama aja kan mobil berhenti juga,posisi D boleh saja akan tetapi dengan catatan berhentinya tidak terlalu lama,kekuatan menginjak pedal rem lama lama akan berkurang dan ini akan membahayakan pengguna kendaraan apabila tuas rem tangan dilepas sedangkan posisi tuas transmisi di D maka mobil akan langsung bergerak maju.Selain itu tekanan fluida di Hydrolic Control System akan selalu stand by apabila tuas di pososi D,sedangkan di posisi N tekanan fluida nya akan berkurang,dan apabila berkurang akan membutuhkan waktu 15 detik untuk menaikan kembali agar mobil dapat bergerak lembut.
Untuk menghindari kecelakan berkendara jangan sekali kali memosisikan posisi tuas di posisi P pada saat kendaraan berhenti karena perpindahan tuas dari P ke D selalu melewati R ,ditakutkan secara tidak sadar pengendara memindahkan posisi masih di R lalu pedal gas langsung diinjak mobil bukannya maju justru mundur.
Jadi kalo mau aman mengedarai mobil dengan Transmisi Otomatis sobat matic harus memperhatikan hal hal berikut
- Jangan memosisikan tuas transmisi di posisi D pada saat terjadi kemacetan atau di lampu merah,karena apabila kaki kita sudah terlalu lelah menginjak pedal rem dan kaki kita terangkat dari pedal rem maka kendaraan akan nyelonong ke depan secara otomatis and kita jadi kaget dech mobil orang ketabrak.
- Jangan memosisikan tuas transmisi di posisi P pada saaat di lampu merah ,karena pada posisi P apabila akan digerakan ke posisi D selalu melewati R dan bisa berbahaya kalau kita secara tidak sadar tuas mampir dulu di R terus pedal gas maen injak aja alhasil kendaraan di belakang kita bisa tertabrak.
PEDOMAN POSISI TUAS TRANSMISI
PEDOMAN POSISI TUAS TRANSMISI
P [ Parkir ]
Roda pada posis terkunci .Gunaka pada saat parkir dan menghidupkan mesin.
Digunakan saat memundurkan kendaraan.
Netral/bebas dari koneksi dengan mesin.Digunakan saat menghidupkan mesin* atau saat berhenti lama (lampu merah).
*) Namun untuk amannya,saat menghidupkan mesin dianjurkan pada posisi [ P ].
Digunakan untuk berkendara,di sini gigi transmisi berpindah secara otomatis sesuai kecepatan kendaraan.
Digunakan saat jalan menurun untuk mengurangi laju kendaraan (efek pengereman mesin/engine brake).Pada posis ini gigi transmisi hanya sampai gigi dua saja.
Digunakan di daerah yang banyak turunan curam,misalnya jalan pegunungan,yang sangat membutuhkan penahanan laju kendaraan dengan pengereman mesin/engine brake.Gigi transmisi tetap pada posisi satu saja.
Saat berkendara dengan posisi [D],tekanlah tombol “Over Drive” [O/D] agar tranmisi dapat berpindah ke posisi “Over drive /gigi-4” pada waktunya secara otomatis.
“Over Drive” dapat meningkatkan efisiensi bahan bakar serta menambahkan kenyamanan berkendara (memperhalus bunyi mesin) pada kecepatan tinggi.
Karakter Transmisi Otomatis
Karakter Transmisi Otomatis
Fenomena “Maju Sendiri”
( Creep Phenomenon )
Jika mesin hidup dan posisi transmisi bukan [ P ] dan [ N ],mobil akan maju dengan sendirinya meski perlahan.Jadi setiap berhenti injaklah pedal rem,bila perlu tarik rem tangan di jalan datar sekalipun.
Pada waktu mesin baru dihidupkan,atau saat idle up (rpm mesin menjadi tinggi) untuk menggerakan A/C,gejala maju sendiri lebih terasa,karenanya injaklah rem dalam-dalam.
Jika pedal gas ditekan mendadak,mobil akan segera melesat,Karena transmisi pindah ke gigi rendah secara otomatis,menyebabkan putaran mesin meningkat tajam.Ini dinakaman sentakan ,yang sangat bermanfaat saat pengemudi berakselerasi untuk mendahului mobil lain.
Read More......